Sewaktu saya sedang berdiskusi dengan beberapa teman, salah seorang teman berbicara mengenai perbedaan antara seorang motivator dengan seorang aplikator. Kata teman saya tersebut seorang motivator belum tentu seorang aplikator sedangkan sebaliknya seorang aplikator biasanya adalah seorang motivator. Kalau dipikir memang ada benarnya juga sih, jadi teringat kisah seorang ulama salafush shalih (lupa kisah lengkapnya) ketika diminta memberikan khutbah jum’at mengenai suatu amalan tertentu. Ketika itu, ulama tersebut ternyata memberikan materi khutbah jum’at yang lain dan ketika diminta kembali ternyata ulama tersebut masih memberikan materi khut’bah yang lain. Setelah tiga kali khutbah jum’at baru kemudian ulama tersebut memberikan khutbah jum’at yang diminta oleh pengurus masjid, pengurus masjid yang penasaran mencoba bertanya kepada sang ulama, kemudian dijawab dengan sederhana yaitu pada saat itu saya belum sanggup melaksanakan amalan tersebut. Idealnya atau sudah seharusnya seorang motivator tentu adalah seseorang yang sesuai antara perkataan dan perbuatannya sehingga apa yang disampaikan sampai kepada yang mendengarkan dan para pendengarnya menjadi benar-benar termotivasi karena mereka tahu apa yang disampaikan telah dicontohkan oleh sang motivator tersebut. Kembali kepada berbincangan saya dengan teman-teman, ada seorang teman yang memang suka sekali nyeletuk dan menimpali siapapun yang berbicara, dengan gaya nyeleneh, ngga penting dan juga ngga nyambung. Sontak saja teman yang lain bilang, kalo model kayak gini sih namanya kompor, sukanya ngompor-ngomporin orang lain aja. (^_^;)
If you liked my post, feel free to subscribe to my rss feeds
























BlogoSquare