<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Illumination &#187; journey</title>
	<atom:link href="http://irpan.csui02.net/blog/tag/journey/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irpan.csui02.net/blog</link>
	<description>Life Through The Light</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Jan 2010 04:43:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>50 Kebiasaan Sukses (part 2)</title>
		<link>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/05/50-kebiasaan-sukses-part-2/</link>
		<comments>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/05/50-kebiasaan-sukses-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 04:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[journey]]></category>
		<category><![CDATA[ngga jelas]]></category>
		<category><![CDATA[work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpan.csui02.net/blog/?p=237</guid>
		<description><![CDATA[ 	26. Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.
27. Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.
28. Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
29. Mereka memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.
30. Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.
31. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> 	26. Mereka menjadi luar biasa karena mereka memilih untuk itu.</p>
<p>27. Mereka berhasil melalui masa-masa berat yang biasanya membuat orang lain menyerah.</p>
<p>28. Mereka tahu apa yang penting bagi mereka dan melakukan yang terbaik yang mereka bisa.</p>
<p>29. Mereka memiliki keseimbangan. Mereka tahu bahwa uang hanya alat, bukan segalanya.</p>
<p>30. Mereka paham betul pentingnya disiplin dan pengendalian diri.</p>
<p>31. Mereka merasa aman karena mereka tahu mereka berharga.</p>
<p>32. Mereka juga murah hati dan baik hati.</p>
<p>33. Mereka mau mengakui kesalahan dan tidak segan untuk minta maaf.</p>
<p>34. Mereka mau beradaptasi dengan perubahan.</p>
<p>35. Mereka menjaga kesehatan dan performa tubuh.</p>
<p>36. Mereka rajin.</p>
<p>37. Mereka ulet</p>
<p>38. Mereka terbuka dan mau menerima masukan dari orang lain.</p>
<p>39. Mereka tetap bahagia saat menghadapi pasang surut kehidupan.</p>
<p>40. Mereka tidak bergaul dengan orang-orang yang salah/ merusak.</p>
<p>41. Mereka tidak membuang waktu dan energi emosional untuk sesuatu yang di luar kendali mereka.</p>
<p>42. Mereka nyaman bekerja di tempat yang ada.</p>
<p>43. Mereka memasang standar yang tinggi bagi diri sendiri.</p>
<p>44. Mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka gagal namun memetik pelajaran dari itu semua.</p>
<p>45. Mereka tahu bagaimana harus rileks, menikmati apa yang ada, dan mampu bersenang-senang dalam kecerobohan sekalipun.</p>
<p>46. Karir mereka bukanlah siapa mereka, itu hanyalah pekerjaan.</p>
<p>47. Mereka lebih tertarik pada apa yang efektif ketimbang pada apa yang mudah.</p>
<p>48. Mereka menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.</p>
<p>49. Mereka menyadari bahwa mereka bukan hanya makhluk hidup belaka, namun juga makhluk rohani.</p>
<p>50. Mereka melakukan apa yang mereka katakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/05/50-kebiasaan-sukses-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50 Kebiasaan Sukses (part 1)</title>
		<link>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/04/50-kebiasaan-sukses-part-1/</link>
		<comments>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/04/50-kebiasaan-sukses-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 10:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[journey]]></category>
		<category><![CDATA[ngga jelas]]></category>
		<category><![CDATA[work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpan.csui02.net/blog/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[ 	1. Carilah dan temukan kesempatan di mana orang lain gagal menemukannya.
2. Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran bukannya kesulitan belaka.
3. Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.
4. Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.
5. Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.
6. Mereka mengajukan pertanyaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> 	1. Carilah dan temukan kesempatan di mana orang lain gagal menemukannya.</p>
<p>2. Orang sukses melihat masalah sebagai bahan pembelajaran bukannya kesulitan belaka.</p>
<p>3. Fokus pada solusi, bukan berkubang pada masalah yang ada.</p>
<p>4. Menciptakan jalan suksesnya sendiri dengan pemikiran dan inovasi yang ada.</p>
<p>5. Orang sukses bisa merasa takut, namun mereka kemudian mengendalikan dan mengatasinya.</p>
<p>6. Mereka mengajukan pertanyaan yang tepat, sehingga menegaskan kualitas pikiran dan emosional yang positif.</p>
<p>7. Mereka jarang mengeluh.</p>
<p>8. Mereka tidak menyalahkan orang lain, namun mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.</p>
<p>9. Mereka selalu menemukan cara untuk mengembangkan potensi mereka dan menggunakannya dengan efektif.</p>
<p>10. Mereka sibuk, produktif, dan proaktif, bukan luntang-lantung.</p>
<p>11. Mereka mau menyesuaikan diri dengan sifat dan pemikiran orang lain.</p>
<p>12. Mereka memiliki ambisi atau semangat.</p>
<p>13. Tahu benar apa yang diinginkan.</p>
<p>14. Mereka inovatif dan bukan plagiat.</p>
<p>15. Mereka tidak menunda-nunda apa yang ada.</p>
<p>16. Mereka memiliki prinsip bahwa hidup adalah proses belajar yang tiada henti.</p>
<p>17. Mereka tidak menganggap diri sempurna sehingga sudi belajar dari orang lain.</p>
<p>18. Mereka melakukan apa yang seharusnya, bukan apa yang mereka mau lakukan.</p>
<p>19. Mereka mau mengambil resiko, tapi bukan nekat.</p>
<p>20. Mereka menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan segera.</p>
<p>21. Mereka tidak menunggu datangnya keberuntungan, atau kesempatan. Merekalah yang menciptakannya.</p>
<p>22. Mereka bertindak bahkan sebelum disuruh/ diminta.</p>
<p>23. Mereka mampu mengendalikan emosi dan bersikap profesional.</p>
<p>24. Mereka adalah komunikator yang handal.</p>
<p>25. Mereka mempunyai rencana dan berusaha membuatnya menjadi kenyataan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpan.csui02.net/blog/2010/01/04/50-kebiasaan-sukses-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rencana Tuhan Itu Indah</title>
		<link>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/30/rencana-tuhan-itu-indah/</link>
		<comments>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/30/rencana-tuhan-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 08:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dienul Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpan.csui02.net/blog/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.
Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet.</p>
<p>Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut: “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”</p>
<p>Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu Semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, ” anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “</p>
<p>Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.</p>
<p>Kemudian ibu berkata:”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.“</p>
<p>Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah; “Allah, apa yang Engkau lakukan? ” Ia menjawab: ” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”</p>
<p>Kemudian Allah menjawab,” Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.”</p>
<p>*Semoga kita semua bisa kuat dan sabar dalam menghadapi segala sesuatu ketika hidup, serumit apapun itu.. karna mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang jauuhhh lebih indah untuk kita, suatu saat nanti&#8230; entah di dunia ataupun dkehidupan setelah itu&#8230; Amiin&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/30/rencana-tuhan-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teka-Teki Imam Ghazali</title>
		<link>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/15/teka-teki-imam-ghazali/</link>
		<comments>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/15/teka-teki-imam-ghazali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 02:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dienul Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[journey]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpan.csui02.net/blog/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[ 	Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka-Teki ) :
Imam Ghazali = &#8221; Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?&#8221;
Murid 1 = &#8221; Orang tua &#8221;
Murid 2 = &#8221; Guru &#8221;
Murid 3 = &#8221; Teman &#8221;
Murid 4 = &#8221; Kaum kerabat &#8221;
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> 	Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka-Teki ) :</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Orang tua &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Guru &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Teman &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Kaum kerabat &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati&#8221; ( Surah Ali-Imran :185).</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Negeri Cina &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Bulan &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Matahari &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Bintang-bintang &#8221;<br />
Iman Ghazali = &#8221; Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama&#8221;.</p>
<p>Iman Ghazali = &#8221; Apa yang paling besar didunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Gunung &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Matahari &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Bumi &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A&#8217;raf: 179) Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.&#8221;</p>
<p>IMAM GHAZALI = &#8221; Apa yang paling berat didunia? &#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Baja &#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Besi &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Gajah &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.&#8221;</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling ringan di dunia ini ?&#8221;<br />
Murid 1 = &#8221; Kapas&#8221;<br />
Murid 2 = &#8221; Angin &#8221;<br />
Murid 3 = &#8221; Debu &#8221;<br />
Murid 4 = &#8221; Daun-daun&#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat &#8221;</p>
<p>Imam Ghazali = &#8221; Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? &#8221;<br />
Murid- Murid dengan serentak menjawab = &#8221; Pedang &#8221;<br />
Imam Ghazali = &#8221; Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri &#8220;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpan.csui02.net/blog/2009/12/15/teka-teki-imam-ghazali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Dia Manusia Biasa</title>
		<link>http://irpan.csui02.net/blog/2009/10/23/karena-dia-manusia-biasa/</link>
		<comments>http://irpan.csui02.net/blog/2009/10/23/karena-dia-manusia-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 08:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dienul Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[journey]]></category>
		<category><![CDATA[ngga jelas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpan.csui02.net/blog/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir manusiawi lah ). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir manusiawi lah ). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Sayatidak ingin melihatnya menangis lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.<br />
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa.<br />
Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.<br />
Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan Perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.<br />
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya.<br />
Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Adabanyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.<br />
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini.<br />
“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.<br />
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.<br />
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop suratperusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti.<br />
Eeh, dianya malah ngikik geli.<br />
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.<br />
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada YTH</p>
<p>Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya<br />
dan calon kakak buat adik-adik saya.<br />
Di tempat</p>
<p style="text-align: justify;">Assalamu’alaikum Wr Wb<br />
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon<br />
bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan<br />
dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu<br />
sampai selesai. Saya, yang bernama …… menginginkan<br />
anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan<br />
siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya<br />
punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti<br />
saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya<br />
akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi<br />
kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang<br />
masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti<br />
akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu<br />
berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan<br />
dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang<br />
punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya<br />
menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk<br />
menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan<br />
saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa<br />
saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau<br />
membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar<br />
menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti<br />
dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu<br />
suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha<br />
sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa<br />
saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu<br />
kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh<br />
berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih<br />
anda.Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.<br />
Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan<br />
agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani<br />
menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat<br />
mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon<br />
sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada<br />
saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1<br />
bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita<br />
tempuh ini. Amin
</p>
<p style="text-align: justify;">Wassalamu’alaikum Wr Wb</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan. “Kenapa kamu memilih dia.” “Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.” “Maksudnya?” “Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel.<br />
Hahaha.” “Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udahtidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.<br />
“Gik…” “Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih. Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Dini atkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.</p>
<p>Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).</p>
<p>Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.
</p>
<p style="text-align: justify;">source: <a href="http://faried.blog.unair.ac.id/2008/10/08/karena-dia-manusia-biasa-renungan-menikah">http://faried.blog.unair.ac.id/2008/10/08/karena-dia-manusia-biasa-renungan-menikah</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irpan.csui02.net/blog/2009/10/23/karena-dia-manusia-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
